Cara Mengendalikan Emosi Anak Agar Lebih Positif
Oleh FDT, 13 Mei 2022
Emosi memainkan peranan penting dalam perkembangan seorang anak. Sejak bayi dilahirkan, emosi berkembang secara bertahap melalui interaksi dengan lingkungannya. Dalam hal ini, orangtua kemudian dengan orang-orang di sekitarnya.
Dalam pembentukan emosi anak, sebaiknya orangtua harus menyadari pentingnya kualitas hubungan dan ikatan kasih sayang. Pemenuhan kebutuhan emosional yang seimbang, akan membentuk kepercayaan dasar pada diri anak dalam mengembangkan dirinya. Anak akan mampu mewujudkan potensi-potensi dasarnya secara optimal.
Anak-anak perlu belajar menangani rangsangan yang membangkitkan emosi dan cara mengatasi reaksi yang menyertai emosi tersebut, termasuk marah. Pada awal kehidupannya, anak akan kesulitan untuk mengendalikan marahnya. Anak perlu bantuan untuk belajar mengendalikan marahnya dengan bimbingan orangtua.
Guna mengendalikan emosi atau kemarahan anak, terlebih dulu mesti mengetahui beberapa faktor yang melatarbelakanginya, entah secara internal ataupun eksternal. Secara internal umumnya berhubungan dengan masalah genetik, saat anak lapar dan haus, jenuh, serta bosan. Sementara faktor eksternalnya, menyangkut lingkungan yang emosional, lingkungan baru, perasaan tertekan karena tuntutan yang terlalu besar dari orangtua, dan masalah pertemanan.
Setelah kita mengetahui, aspek yang melatarbelakangi sikap emosional yang ditunjukkan oleh anak, orangtua akan mampu mengintervensinya, kecuali yang terkait dengan faktor genetik. Hal itu yang paling tidak mudah untuk diintervensi.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan emosi anak, dengan mempertimbangkan aspek yang melatarbelakanginya, antara lain:
Mengetahui jam-jam anak lapar dan mengantuk.
Mengetahui tanda-tanda anak lapar dan mengantuk.
Menyiapkan berbagai kegiatan dan sarana yang dibutuhkan anak di rumah untuk memenuhi kebutuhan eksplorasi dan pembelajaran mereka.
Mempersiapkan kegiatan dan sarana yang dibutuhkan bila anak melakukan kegiatan yang memakan waktu lama dan membosankan.
Membuat suasana lingkungan di sekitar anak agar tidak emosional.
Mengatur adanya masa adaptasi dan persiapan bagi setiap anak bila akan memasuki lingkungan baru.
Membimbing anak untuk belajar memahami orang lain, termasuk memahami tentang marah yang dia rasakan. Orangtua juga perlu mengajari anak untuk mengatasi perasaan marahnya dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan sekitar anak.
Ada pun hal-hal yang dapat dilakukan orangtua untuk mengurangi faktor pemicu sikap emosional anak di usia 2-12 tahun, antara lain:
Menghindari menyuruh anak melakukan hal yang enggan dilakukannya.
Memberikan pemahaman kepada anak bahwa tidak selamanya keinginan mereka harus dipenuhi.
Melatih anak untuk ikhlas menerima hasil.
Menghindari menyuruh saat anak sedang asyik melakukan aktivitas lain. Anak perlu diberi waktu peralihan dari aktivitas sebelumnya ke aktivitas yang baru.
Menghindari menyalahkan anak dengan menurunkan harga dirinya.
Menghindari untuk menggoda anak, terutama saat kondisinya mudah marah.
Menghindari nada menggurui pada anak.
Menghindari untuk membandingkan anak dengan orang lain, dan sebagainya.
Setelah mengatasi berbagai faktor yang dapat menimbulkan marah, anak juga perlu dilatih untuk mengendalikan marah. Tujuannya, anak dapat bersosialisasi dengan baik, memiliki rasa percaya diri, dan memiliki keterampilan mengelola emosi sejak dini.
Jika terdapat 2 sikap moral yang diperlukan oleh anak zaman now, sikap yang paling tepat ialah kasih sayang dan kontrol diri. Semoga tulisan ini dapat memberikan inspirasi bagi pengembangan emosi anak agar lebih positif. Semoga bermanfaat.
Artikel Terkait
Artikel Lainnya