Mengapa Kita Sering Mudah Dibohongi oleh Media?
Oleh Freelancer, 24 Feb 2020
lintasdetik.com - Berangkat dari sebuah pernyatan petinggi nazi, Paul Joseph Goebbels yang mengatakan “kebohongan yang di ucapkan secara berulang-ulang, niscaya akan menjadi sebuah kebenaran yang dipercaya”.
Di-era sosial media kita sering menemukan fenomena ini sebagai suatu permasalahan yang komplek dan nyata, dimana kebohongan atau hoax menjadi sebuah konsumsi yang biasa ditengah-tengah masyarakat. Pertumbuhan hoax ternyata sejalan dengan pertumbuhan orang dalam mengakses internet, di Indonesia sendiri ada sekitar 123 juta orang mengakses internet yang ini berpotensi untuk termakan oleh berita-berita bohong atau hoax, terlebih negera kita tergolong sebagai developing country atau Negara berkembang yang masyarakatnya cenderung memiliki literasi yang rendah sehingga penyebaran hoax lebih efektif dan massif.
Contoh kecil yang bisa kita lihat bagaimana hoax dianggap sebagai hal yang lumrah, Misalkan yang paling familiar sering kita lihat adalah advertisement atau iklan yang sering muncul di TV atau HP. Iklan dibuat biasanya dalam rangka menarik orang untuk membeli sebuah produk yang di pasarkan dengan membuat konten yang sifatnya hiperbola (berlebihan) dan terkadang mengada-ngada, secara tidak sadar ini merupakan kebohongan yang kita anggap sebagai suatu hal biasa dan melatih otak untuk menerima hal tersebuat yang pada akhirnya dianggap sebagai suatu hal yang benar. Jadi tidak heran kalo kita terkenal dengan Negara pasar atau dalam arti lain masyarakat yang tergolong konsumtif, karena mudah menerima iklan yang menjadi aspek acuan pembelian bukan berdasarkan kebutuhan.
Mengapa hoax lebih menarik dari sebuah kebenaran?
Berita bohong atau hoax biasanya dibuat dengan pendekatan bahasa story telling yang sangat menarik dan mudah dicerna oleh orang banyak, sehingga penyajianya begitu renyah dikonsumsi di semua kalangan masyarakat. Terlebih untuk mencari sebuah keberan berita, orang perlu mengecek ke absahan suatu bertita dengan mencari data-data yang valid sampai membandingkan kebenaran antara data yang di cari dengan berita yang ada. Proses ini begitu berat untuk Negara berkembang dengan literasi yang masih rendah, masyaraktanya biasanya lebih suka hal-hal yang mudah, sehingga informasi hoax lebih menarik untuk di baca.
Sebaliknya dengan fakta atau berita benar yang terkadang membosankan untuk dibaca atau di konsumsi karena terkesan disampaikan secara formal sehingga orang malas untuk membacanya. Jadi untuk menyelesaikan masalah hoax di Negara kita yang harus pertama kita lakukan adalah meningkatakan taraf literasi masyarakat kita melalu pendidikan sehingga hoax atau berita bohong dapat kita solusikan di kemudian hari. (Am/Red)
Artikel Terkait
Artikel Lainnya