

Dosa dan Bisnis Kotor Petinggi Gereja
Kerawanan gereja menjadi tempat pencucian uang mengkhawatirkan lantaran di beberapa gereja raksasa, pendeta bisa terlibat melakukan bisnis; sebuah pintu lebar bagi kemungkinan korupsi dan pencucian uang.
Salah satu contoh kasus publik adalah Billy Sindoro, gembala sidang Gereja Christ Catedral (bagian dari Gereja Bethel Indonesia Basilea) dicokok KPK dalam kasus suap izin Meikarta pada 2018. Meikarta adalah usaha dari Lippo Grup tempat Billy menjadi salah satu bosnya. Suap semacam ini bukan pertama kali dilakukan oleh Billy. Pada 2008, ia pernah ditangkap KPK karena menyuap Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha dalam kasus hak siar Barclays Premier League.
Meski sudah divonis penjara pada Maret lalu, laman Christ Cathedral masih menampilkan Billy Sindoro sebagai co-lead pastor yang tidak menerima upah dari gereja.
Soal kasus-kasus korupsi yang menyangkut petinggi gereja, Direktur Pascasarjana Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia Junifrius Gultom mengatakan memang ada kelemahan dalam ajaran gereja, khususnya pada Pentakosta Karismatik, yang hanya menekankan personal sin seperti seks bebas, judi, mabuk dan sebagainya. Namun, sering lupa dimensi social sin yang menyangkut relasi sosial.
"Jarang sekali bicara soal ketamakan. Jarang soal penebangan hutan, misalnya. Karena jarang dimuridkan dengan kurikulum yang integrated dan holistik sehingga mereka mengatakan Tuhan itu urusan di gereja. Kalau saya di gereja, Tuhan nothing to do with my business. Itu, kan, keliru,” ujar Gultom.
Karena itu tak jarang banyak orang saleh di gereja, tapi dalam perilaku bisnis jauh dari nilai-nilai Kekristenan, menurut Gultom.
“Maka, mereka membayar upah secara tidak manusiawi, lalu menghalalkan segala cara mengurus izin dengan menyuap. Suap itu mereka pikir tidak ada urusannya dengan Tuhan,” katanya.
Respons Satir Jemaat
Namun, kondisi gereja macam itu bukannya minim kritisisme. Era media sosial melahirkan akun-akun satire dan gosip yang menarik puluhan ribu pengikut, termasuk untuk merespons naiknya tingkat kesalehan kelas menengah Indonesia berbanding lurus dengan tingkat keglamoran para pemimpin agamanya.
Misalnya akun Instagram @gerejapalsu yang turut mengampanyekan petisi audit gereja-gereja raksasa dan kerap menyindir praktik para pendeta memperkaya diri dengan tudingan didapatkan dari uang jemaat.
Ada pula akun @jemaat_gerejapalsu yang melayangkan kritik serupa terhadap kehidupan bergereja. Orang di belakang admin akun tersebut berkata ia membuat sindiran dan sarkasme dengan persona anonim lantaran tidak ada mekanisme whistle blower alias 'peniup peluit' di gereja.
“Karena gereja tidak mengakui whistle blower. Jemaat yang kritis tanpa tedeng aling-aling akan dianggap sesat dan dikeluarkan dari gereja,” katanya.
Ada juga akun @pastorinstyle yang menyoroti penampilan glamor para pastor mega church. Ia menampilkan foto pastor lalu iseng-iseng melacak pakaian serta aksesori yang digunakan para pastor itu. Beberapa yang mengejutkan misalnya ada pastor yang memakai jam tangan seharga lebih dari Rp1 miliar. Beberapa pastor perempuan dan istri pastor mengenakan aksesori dari merek mahal seperti tas Hermes seharga ratusan juta.
Unggahan mereka direspons balik dari sejumlah pendeta. Salah satunya Pastor Raditya Oloan, yang dalam kolom komentarnya menulis akun-akun satire ini hanya melihat keburukan orang lain.
“[...] bukan jadi martir, malah jadi satir... Gue yakin banget [apa yang dilihat] orang-orang satire ini mungkin bener ... tapi cuma [lihat] kesalahan,” katanya.
Baca juga: Ke Mega Church demi Dahaga Iman yang Ekspresif
Sementara Pendeta Yohanes Nahuway dari GBI Mawar Saron berkata apa yang ditampilkan oleh akun satire itu mengabaikan konteks. Menurutnya, sering kali para pendeta mendapatkan hadiah dari jemaat berupa barang mewah, bukan dibeli sendiri oleh pendeta.
"Kadang kita sulit menolak kalau ada jemaat yang mau berterima kasih dengan cara memberikan barang. Saya pernah khotbah di Amerika kemudian diberi uang Rp30 juta. Saya belikan iPad Pro. Nanti ada yang bilang, 'Pendeta gaya amat beli iPad mahal.' Padahal bukan uang kita,” katanya.
Junifrius Gultom juga berpendapat ada banyak pendeta memang sudah tajir sebelum berkiprah di gereja. “Ada orang tidak tahu bahwa di Karismatik, kalangan profesional bisa ditahbiskan menjadi pendeta. Jadi banyak teman-teman saya menjadi pendeta sudah kaya sebelumnya. Gaya hidupnya sudah begitu,” ujarnya.
Semakin Untung dan Mudah dengan Aplikasi Laundry
28 Apr 2022 | 1805
Sebuah usaha laundry yang sukses tentu membutuhkan proses yang panjang untuk meraih dan mempertahankannya. Dimana ada banyak rintangan yang harus diperjuangkan oleh seorang pebisnis laundry ...
7 Mei 2026 | 122
Perkembangan teknologi digital membuat interaksi antara pelanggan dan perusahaan menjadi semakin cepat dan dinamis. Konsumen modern kini menggunakan berbagai platform komunikasi ketika ...
4 Tempat Wisata Ciwidey Bandung Bernuansa Romantis yang Pas Untuk Kencan Berkesan
11 Jun 2022 | 2027
Jika ѕааt Ñ–nÑ– kamu dаn раѕаngаnmu ѕеdаng bingung Ñ–ngÑ–n bеrkеnÑаn dÑ– mаnа, mаkа Ciwidey bіѕа ...
Brand Voice: Cara Menentukan Gaya Komunikasi yang Konsisten di Media Sosial
10 Apr 2025 | 545
Dalam dunia digital saat ini, keberadaan media sosial telah menjadi salah satu elemen penting dalam strategi pemasaran setiap brand. Salah satu kunci untuk membangun hubungan yang baik ...
Tujuan Strategis Persatuan Ahli Farmasi Indonesia
7 Agu 2024 | 942
Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI), pafitanjungkeramat.org merupakan organisasi profesi yang menaungi para ahli farmasi di Indonesia. Didirikan sejak tahun 1946, PAFI ...
7 Jenis Backlink yang Bagus untuk Optimasi Website
14 Jun 2024 | 1017
Dalam upaya untuk meningkatkan peringkat website di mesin pencari, backlink yang berkualitas sangatlah penting. Dengan mengumpulkan backlink yang bagus, maka website atau blog Anda akan ...