MU

Dunia Terancam Resesi Ekonomi, Dampak Virus Corona

11 Maret 2020  |  166xDitulis oleh : Freelancer
Dunia Terancam Resesi Ekonomi, Dampak Virus Corona

lintasdetik.com - Virus Corona mulai menunjukkan dampak yang mengkhawatirkan, salahsatunya adalah ancaman resesi global, dimana hal ini membuat para investor di pasar keuangan mengalami ketakutan. Virus Corona, bila tidak segera teratasi, dapat menimbulkan resesi ekonomi. Hal inipun sudah terlihat dari keputusan Italia, dimana negara tersebut melakukan semi-lockdown terhadap sebagian besar kota di bagian utara, termasuk Milan. Resesi global pun diperlihatkan dengan tanda-tanda lain, seperti jatuhnya harga minyak dan meningkatnya wabah virus corona di Amerika Serikat.

Sehingga, para ekonom akhirnya perlu untuk melakukan koreksi terhadap prediksi mereka kaitannya dengan kondisi perekonomian global. Sebagian besar ekonom, memprediksi, bahwa wabah virus Corona, berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi, dan meyakini akan terjadinya kontraksi di kuartal pertama dan kedua pada tahun ini.

Joachim Fels, Ekonom dari PIMCO, menyatakan bahwa resesi ekonomi kemungkinan terjadi di Amerika Serikat dan Eropa. Adapun Jepang, dirinya meyakini bahwa kemungkinan besar negara tersebut sudah mengalami resesi.

"Dalam pandangan kami, yang terburuk bagi perekonomian masih akan datang selama beberapa bulan ke depan," jelas Fels.

Sebenarnya, apa yang dapat memicu resesi global?

Pada akhirnya, wabah virus Corona berdampak terhadap aktivitas masyarakat. Orang-orang terpaksa untuk tinggal di rumah dan menghindari perjalanan. Hal ini, akhirnya berdampak juga terhadap permintaan tiket penerbangan, kamar hotel, sampai dengan makan di Restoran.

Sisi lain, pemberhentian operasi pabrik di negara lain, seperti China, akan menambah gangguan, terutama kaitan dengan rantai pasokan dunia.

Wabah Corona bila tidak segera tertangani, akan semakin besar upaya untuk mengatasinya, dan berpengaruh besar juga terhadap perekonomian global. Saat ini, semuanya sedang berada pada ketidakpastian.

"Panjang dan dalamnya kontraksi ekonomi global sangat tergantung pada apakah petugas kesehatan dapat memperlambat penyebaran virus melalui peningkatan pengujian, pembatasan pertemuan massal, dan karantina orang yang terinfeksi," ucap Jan Hatzius, ata Kepala Ekonom Goldman Sachs.

Salah satu negara yang paling terkena dampak dari wabah Corona, adalah China. China mengalami kontraksi ekonomi pertama sejak 1970-an, karena sepanjang Februari kemarin, aktivitas negara ini begitu terganggu.

Adapun bila wabah Corona secara global berada di atas angka 100.000 kasus, serta kebijakan-kebijakan pembatasan semakin meluas di negara-negara lain, hal ini akan menguatkan tekanan yang semakin parah terhadap ekonomi global.

Neil Shearing, Kepala Ekonom Capital Economics, mengatakan bahwa dirinya melihat adanya resesi yang tajam, namun mungkin dalam jangka pendek. Hal ini sebagai skenario yang paling buruk, melihat perubahan yang begitu cepat.

Sementara itu, Chetan Ahya selaku kepala ekonom Morgan Stanley, mengatakan pada paruh pertama di tahun ini, pertumbuhan global akan mengalami suatu kejutan yang cukup besar.

Dirinya memperkirakan, bahwa pertumbuhan PDB akan terjun ke tingkat tahunan 2,3 persen, sebelum dapat pulih menjadi 3,1 persen di enam berikutnya. Hal ini pun bila didorong oleh stimulus pemerintah dan juga bank sentral.

Namun, lain cerita bila wabah ini semakin meluas, melebih bulan April. Kerugian perusahaan disinyalir akan lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya. Selain itu, ekonomi global akan memasuki resesi. Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang, akan mengalami ressi, atau setidaknya dua perempat kontraksi berturut-turut.

Namun, kontraksi yang dimaksud yang diakibatkan atas wabah ini, akan terlihat cukup berbeda dengan krisis keuangna yang terjadi pada tahun 2008. Pemulihan akan terjadi, ketika rumah tangga maupun bank-bank, perlahan kembali seperti biasa. Adapun coronavirus crunch, diharapkan dapat menjadi rebound cepat setelah wabah ini berhasil dikendalikan.

Pernyataan para ekonom dunia itu pun diamini dengan pengaruhnya terhadap pasar modal Indonesia. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian bikin jantung berdebar, yang dikhawatirkan sebagai dampak resesi global.

marsangap P. Tamba, Direktur Utama PT Danareksa Invesment Management (DIM), menjelaskan kondisi ini. Bahwa, investor akan merasakan deg-degan melihat potensi resesiekonomi, akan terus berlanjut sampai ada kepastian. Kepastian yang dimaksud menurut Marsangap, adalah hadirnya data yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi.

Dirinya menambahkan, saham yang berharga murah di IHSG sebagai dampak Corona, menurutnya masih terlalu beresiko untuk dimasuki.

"Kalau dibilang murah itu to early. Karena sampai sekarang belum ada yang confirm penurunannya sampai mana. Kita DIM tidak akan agresif beli di harga sekarang sampai kita lihat pertumbuhan ekonomi kuartal I kelihatan angkanya," ungkap Marsangap, di Jakarta, Selasa (10/3).

Fluktuasi di pasar saham memiliki kecenderungan yang masih juga tinggi. Para pelaku pasar, masih menunggu data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2020 keluar.

"Tapi data kuartal I keluar akhir April atau Mei. Lalu nanti pasar masih mencerna dulu data makro kuartal I. Makanya swing terbesar akan terjadi di kuartal II," tambah Marsangap.

Selain kondisi yang disampaikan, masih ada harapan untuk rebound, bilamana pertumbuhan ekonomi masih berada di atas 5%. Saat rebound itulah, waktu yang tepat untuk belanja saham.

"IHSG yang paling besar kan di perbankan. Perbankan kan masih bagus, pertumbuhan kredit juga masih high single digit. Investor akan melihat apakah benar kondisi ekonomi sangat melambat," pungkasnya.

Berita Terkait
Baca Juga:
Mau Buat Hand-Sanitizer? Simak ini 3 Bahan Alami untuk Membuatnya

Mau Buat Hand-Sanitizer? Simak ini 3 Bahan Alami untuk Membuatnya

Herbal      

30 Maret 2020 | 69


lintasdetik.com - Saat ini hand-sanitizer menjadi salah satu produk yang banyak diburu oleh masyarakat khususnya di negara Indonesia. Dengan alasan, produk pembersih tangan ini ...

Ahli Kunci Immobilizer Cirebon Berkualitas Dan Terpercaya

Ahli Kunci Immobilizer Cirebon Berkualitas Dan Terpercaya

Ulasan      

25 Maret 2019 | 481


Ahli Kunci Immobilizer Cirebon Berkualitas Dan Terpercaya - Hampir dari semua mobil keluaran baru kini sudah dilengkapi dengan fitur kunci immobilizer. Immobilizer merupakan sebuah ...

Waduh, Gaji Sudah Habis di Awal Bulan? Coba dulu Tips Manajemen Keuangan ini

Waduh, Gaji Sudah Habis di Awal Bulan? Coba dulu Tips Manajemen Keuangan ini

Tips      

6 Maret 2020 | 85


lintasdetik.com - Pernahkah Anda mengalami bahwa gaji yang Anda terima di awal bulan, seketika lenyap karena banyaknya kebutuhan? seolah-olah, gaji tersebut hanya menumpang lewat saja ...

Sentra Rak Distributor Rak Supermarket Berkualitas

Sentra Rak Distributor Rak Supermarket Berkualitas

Ulasan      

1 Okt 2019 | 137


Sentra Rak Distributor Rak Supermarket Berkualitas - Untuk jenis usaha retail seperti swalayan, minimarket atau supermarket, kebutuhan akan rak toko adalah hal yang utama. Rak toko ...

Bertambah 2, Total 8 Perawat RI Gugur di Garis Depan Pandemi Corona

Bertambah 2, Total 8 Perawat RI Gugur di Garis Depan Pandemi Corona

Nasional      

9 Apr 2020 | 70


lintasdetik.com - Sedih, bertambah lagi dua orang perawat yang meninggal karena pandemi Corona setelah keduanya berjuang di garda tedepan dalam upaya untuk menyembuhkan pasien yang ...

Schneider Electric Solusi Digital Energi dan Otomasi Untuk Lebih Efisien Pada Rumah dan Gedung

Schneider Electric Solusi Digital Energi dan Otomasi Untuk Lebih Efisien Pada Rumah dan Gedung

Tekno      

16 Okt 2020 | 52


Otomatisasi Smart Home berpedoman pada perangkat, peralatan, atau sistem yang dapat terhubung ke jaringan umum, yang independen dan dikendalikan dari jarak jauh. Ketika Anda menyatukan ...