

Penegakan hukum di Indonesia kembali menjadi sorotan publik, karena sudah membiarkan seorang koruptor yang sudah di tetapkan sebagai tersangka sejak 1 Februari 2019 sampai sekarang masih bebas berkeliaran.
Tersangka tersebut adalah Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) dari kalangan partai PDIP, Supian Hadi. Dia dijadikan tersangka karena tersangkut kasus dugaan korupsi pemberian Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang sudah merugikan negara sebesar Rp 5,8 triliun.
Penyalahgunaan wewenang tersebut meliputi tiga perusahaan yaitu PT FMA, PT BI dan PT AIM, ketiga perusahan tersebut di permudah perizinannya untuk memperluas produksinya.

Kerugian keuangan negara dalam kasus Sopian Hadi ini tentu lebih besar dibandingkan dengan kasus sebelumnya yang menjerat Sjamsul Nursalim, terkait kasus korupsi penerbitan SKL BLBI sebesar Rp 4,58 triliun.
Atas perbuatannya Supian Hadi dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 yang telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Junto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.
Kasus besar seperti ini seharusnya bisa cepat diselesaikan dan segera memberikan keputusan hukuman penjara untuk Supian Hadi. Mengapa pada pemerintahan Jokowi penegak hukum bahkan KPK seakan bergerak lamban jika yang terjerat kasus ada hubungannya dengan partai PDIP.
Seakan terlalu berbelit-belit semua kasus-kasus korupsi di Indonesia sangat lama sekali prosesnya, terutama jika berhubungan dengan partai PDIP selalu saja penuh drama. Berbeda jika yang sedang terkena kasus adalah orang diluar partai tersebut yang sangat cepat sekali proses hukumnya.
Semua kejadian ini tidak sesuai dengan janji kampanye Jokowi yang saat kampanye begitu bersemangat akan memberantas korupsi dan memperkuat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lemahnya perhatian pemerintah terhadap kasus-kasus mega korupsi seperti ini membuat publik atau rakyat tidak lagi percaya dengan lembaga hukum.
Sebaiknya pemerintah dan penegak hukum di Indonesia ini tidak lagi tebang pilih dalam menangani kasus korupsi yang berkaitan dengan partai PDIP. Jika ingin kepercayaan publik terhadap lembaga hukum di Indonesia tetap terjaga. Karena kasus besar seperti ini sudah sangat merugikan negara dan pasti dampaknya akan berimbas juga kepada rakyat nantinya.
Konten Kreatif yang Menjual: Tips Mengelola Akun Media Sosial Bisnis Agar Tidak Membosankan
14 Feb 2026 | 70
Banyak akun bisnis online yang terjebak dalam pola "post-promo-jual" secara berulang-ulang hingga akhirnya ditinggalkan oleh pengikutnya. Di tahun 2026, audiens memiliki filter ...
Membangun Bisnis Pemula dengan Obat Kesehatan MLM yang Sukses
10 Jun 2025 | 526
Dalam era digital yang semakin maju, banyak orang mencari peluang untuk berbisnis secara online, salah satunya adalah melalui sistem Multi-Level Marketing (MLM). Bisnis ini menarik ...
FINECLEAN.ID Jasa Vakum Tungau, Cuci Kasur Sofa dan Karpet di Tangerang Selatan
30 Okt 2024 | 861
Jasa cuci kasur sofa dan karpet di tangerang selatan karena banyak orang yang mulai sadar akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan. Kasur merupakan salah satu tempat favorit ...
Cara Mudah Hard Reset Smartphone Xiaomi Untuk Semua Model
9 Apr 2019 | 1914
Smartphone sekarang ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, karena hampir seluruh aktifitas yang dilakukan menggunakan smartphone. Dari mulai berbagi kabar berita, pesan dan ...
Subscriber Nambah Otomatis! Beli Subscriber YouTube Terpercaya
7 Apr 2025 | 491
Di era digital ini, YouTube telah menjadi salah satu platform terpopuler bagi konten kreator untuk berbagi video dan membangun komunitas. Namun, untuk mempercepat proses pengembangan ...
26 Okt 2025 | 368
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Karawang dengan alamat laman https://dlhkabkarawang.org/ memiliki peran yang sangat vital dalam menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup di ...